![]() |
| Tees LFC Tour 2013 |
Wednesday, May 8, 2013
T-Shirt LFC Tour 2013
Wednesday, March 14, 2012
Ketinggalan Momen Bersejarah
Beberapa hari lalu (sudah agak lama sih, mungkin lebih dari seminggu) saya dapat SMS dari mas Ardhi 'Bhegank' Suhantoro. Dia adalah temen kerja saya dulu di sebuah restoran hotel di Mangga Besar. Intinya dia ngajak kumpul-kumpul bareng temen-temen mantan karyawan situ. Kebetulan yang dia ajak adalah anak-anak mantan divisi Barista. Yup, saya dulu kerja di restoran itu sebagai Barista. Itu lho tukang racik minuman, terutama kopi. Mirip seperti Bartender, tapi kalau Bartender spesialisasinya lebih mengarah ke minuman beralkohol. Nah, mas Ardhi ini salah 1 senior saya.
Meski kini kami, anak-anak mantan Barista, sudah tidak lagi kerja di sana, tapi alhamdulilah kebersamaan di antara kami tetap terjaga. Kami juga sering ngumpul bareng untuk sekedar reuni kecil-kecilan. Pernah dulu kita ngumpul & makan-makan di Blok M plasa. Dan mas Ardhi yang traktir kami semua. Hehe, makasih mas.. Pernah juga kami kumpul di rumahnya mas Virgie. Bukan Virgieawan Listanto alias Iwan Fals lhoh ya. Tapi ini mas Virgie aja. Beliau dulu adalah supervisor kami yang asli Madiun, tapi gede di Jakarta..
Ceritanya mas Ardhi kali ini ngajakin reunian di tempat kami kerja dulu. Agendanya di samping makan bareng juga sekedar kumpul-kumpul saja. Dia ngajak semua mantan anak Barista seangkatannya. Yang dia ajak ada Yadi, Zay, Nano, Abid, Ronie, trus siapa lagi ya? Hehe, mungkin cuma ini-ini doang. Wow, sepertinya asyik tuh, pikir saya. Apalagi kami sudah lama gak ngumpul. Semenjak resign dari sana di awal tahun 2008 lalu, saya belum pernah main lagi ke sana. Padahal masih banyak temen yang dulu seangkatan namun beda divisi yang masih mencari sesuap nasi alias bekerja di sana, hehe. Rasanya pengen banget gabung di acara ini. Meski ngebet pengen ikut tapi saya gak serta merta mengiyakan ajakan mas Ardhi. Saya jawab 'kita lihat saja nanti, semoga ada waktu'.
Dan hari yang ditunggu pun tiba. Parahnya saya lupa kalau hari itu adalah hari dimana mas Ardhi bikin acara. Tau-tau udah tengah malam, waktu saya buka pesbuk. Ada pesan dari mas Ardhi yang dikirim 6 jam sebelumnya. Bunyinya kurang lebih "an, kalau lo baca pesen ini buruan hubungi gue. Ini gue lagi ngumpul bareng anak2". Tepok jidat sambil teriak dalam hati, LUPAAA GUEHH..!!! Sumpah saya bener-bener lupa. Dan parahnya, kenapa dia gak SMS atau telpon aja gitu. Kalau gini kan saya jadi kehilangan momen langka yang mungkin gak akan terulang di waktu deket ini, ya kan?
Lalu saya buka notifikasi pesbuk. Jedarrr...!! Kayaknya sengaja pamer & bikin saya nyesel karena gak ikut nih. Dia meng-up load foto-foto anak-anak lagi pada makan suki alias shabu. Glek, saya pun mendadak ngiler ngebayangin gurihnya kuah suki, ditambah bakso ikan sama udangnya. Lalu lembutnya bakso sapi sama letuce, cellery gulung ikan, jamur shitake. Bener-bener yummiii pokoknya *lap iler dulu*. Kampretnya lagi, itu foto di-tag ke semua akun pesbuk anak-anak mantan karyawan situ yang sekarang sudah pada resign. Gimana gak bikin mupeng coba. Hasilnya lapak komen banjir 'omelan' dari temen-temen yang gak ikut. Rata-rata bilang "makan-makan gak ngajak-ngajak woi..!!".
Ini dia salah 2 foto yang dia pamerin ke saya:
Tuh, si Roni, Nano, sama Yadi lagi laahapnya makan suki..
Kalau ini siapa ya? Udah agak lupa sama tampangnya. Yang paling kiri sih Yadi. Ini mereka niat amat makannya. Kaya 2 hari gak makan aja. Udah makan suki masih makan nasi goreng pula. Ingat bung, di luar sana masih banyak fakir miskin yang kelaperan. Hehehe.... Hehe... Betewe, kalau kapan-kapan pada ngumpul lagi ajak-ajak saya ya... :p
Tuesday, February 28, 2012
Saya dan Fanatisme Sepakbola
Pertandingan sepakbola juga tak jarang diadakan di tengah pekan. Tapi pertandingan yang berlangsung di hari kerja umumnya dihelat pada malam hari, dimana orang-orang sudah pulang dari tempatnya bekerja. Sehingga mereka, karyawan kantor pada umumnya, masih sempat menyaksikan pertandingan secara langsung, di stadion maupun di rumah.
Saya sendiri juga penggemar sepakbola, meski belum pernah menyaksikan langsung di stadion. Saya lebih suka nonton bola di rumah melalui tayangan dari tivi-tivi swasta nasional. Saya merasa bersyukur banget, tayangan bola terutama di malam minggu saya rasakan sangat bermanfaat bagi jomblongenes single limited edition seperti saya. Tayangan bola membuat malam minggu saya serasa bukan malam minggu. Tayangan bola membuat saya merasa menjadi seorang yang bukan jomblo lagi. Apalagi kalau yang bertanding adalah kesebelasan favorit, tentu akan menjadi hal yang istimewa, sesuatu banget pokoknya. Nongkrong di depan tv, siapkan camilan dan kopi, sambil menyaksikan tim dan pemain favorit menggiring bola di atas lapangan hijau. Ya Allah, ternyata untuk mendapatkan kebahagian itu sederhana sekali. :)
***
Setiap orang yang gemar nonton bola pasti punya tim favorit, baik itu klub sepakbola Tanah Air maupun luar negri. Untuk tim dalam negeri saya suka adalah Persebaya Surabaya, yang ada Andik Vermansyah-nya. Ya, yang ada Andik-nya. Karena seperti yang kita tahu, saat ini Bajul Ijo terpecah jadi 2. Persebaya 1927 (yang ada Andik-nya) berlaga di Indonesian Premier League, liga resmi PSSI. Satunya lagi ikut divisi 1 yang digelar oleh PT. Liga Indonesia. Persebaya menjaadi korban dualisme kompetisi yang ada di Tanah Air. Supaya lebih jelas mengenai konflik persepakbolaan kita, bisa dilihat di sini.
Saya mulai suka Bajul Ijo ketika mereka berhasil mencapai final Liga Indonesia di tahun 1999. Meski akhirnya harus menyerah dari PSIS Semarang lewat gol tunggal Tugiyo di menit-menit akhir pertandingan, namun saya menyaksikan penampilan luar biasa dari Arek-arek Suroboyo ini. Tembakan bertubi-tubi para pemain Persebaya mampu digagalkan penampilan gemilang kiper Laskar Mahesa Jenar, I Komang Putra. Hasilnya, PSIS berhasil mengungguli Persebaya lewat gol dari striker berdarah Tegal, Tugiyo. PSIS pun merengkuh gelar juara Liga Indonesia untuk pertama kalinya.
Saya juga punya klub favorit di luar negeri, yaitu Liverpool FC. Kecintaan saya pada tim ini terbilang unik. Seperti cinta pada pandangan pertama. Dimulai ketika di akhir tahun 90-an waktu saya masih duduk di bangku SD. Pertandingan sepakbola pertama yang saya saksikan adalah pertandingan antara Liverpool melawan (kalau tidak salah, agak lupa soalnya) Derby County. Waktu itu saya nonton bareng sepupu di rumahnya, secara kala itu di rumah saya belum ada tivi. Lagi pula di masa-masa itu televisi masih jadi barang langka di kampung saya. Kami, warga kampung, terbiasa menonton berjamaah. Buruk? Tidak, justru hal ini memberi poin tersendiri yaitu mempersering intensitas ‘bertamu’ ke rumah tetangga. Mempererat silaturahim, bukan? :D
Sepupu saya bercerita tentang kehebatan Liverpool. Bukan tentang prestasi yang pernah diraihnya, tapi tentang pemain-pemain hebat yang mereka miliki. Di antaranya ada Steve McMananam, Jamie Carragher, Robbie Fowler, dan striker belia berbakat Michael Owen. Praktis, sejak itu tim sepakbola yang saya kenal (yang kemudian benar-benar saya cintai) tak lain dan tak bukan adalah Liverpool. Meski selanjutnya saya mengenal klub-klub besar lain sekelas MU, Arsenal, Madrid, Barcelona, Milan, ataupun Inter, tapi kecintaan saya akan The Reds sudah terlanjur terpatri di hati ini. Apalagi ketika saya mulai tahu sejarah dan prestasi yang pernah diraih tim yang bermarkas di Anfield ini, kefanatikan saya semakin menjadi. Padahal ketika saya mulai ngefans sama Liverpool, tim ini sedang kering prestasi lho. Bahkan mereka sudah lama sekali tidak merasakan gelar juara liga Inggris yang terakhir diraih pada tahun 1990. Tapi apa dikata, saya terlanjur mencintai Liverpool apa adanya, dengan segenap baik dan buruknya. Semacam cinta buta? Hmmm, menurut saya sih iya. Bukan rahasia lagi kalau fanatisme buta semacam ini yang menjangkiti para penggemar bola. Kalau disuruh berdebat mengenai tim kesayangannya, pasti tiap orang punya alasan kuat tentang kecintaannya pada klub favorit. Seandainya klubnya diledek oleh pecinta klub lain, pasti ia akan punya segudang alasan untuk menyanggahnya, ia juga akan berusaha membela klub tercintanya mati-matian. Nah, ada sesuatu yang saya bilang unik dibalik kecintaan seseorang akan klub sepakbola. Ada yang suka karena sejarahnya, ada yang demen gara-gara klub tersebut memiliki pemain terkenal, ada juga yang cinta mati sama tim tertentu karena gaya permainan yang diterapkan para pemain di klub tersebut sangat memukau, dan masih banyak alasan lain yang mendasari kecintaan mereka, para suporter, akan klub sepakbola. Jadi bukan semata-mata karena prestasi saja. Tak usah heran kalau tim-tim medioker yang jarang berprestasi semacam Newcastle, Fiorentina, Norwich City, Malaga, Parma, atau klub-klub Eropa lainnya, punya penggemar di Indonesia. Meski jumlahnya tak sebanyak penggemar klub yang langganan juara seperti Barcelona, MU, Madrid, Chelsea, Milan, Arsenal, dan klub-klub papan atas lainnya. Nah, kalau mereka ditanya alasan mengapa sampai suka berat sama klub itu, tentu mereka akan punya alasan berragam.
Di media-media sosial, seperti facebook dan twitter, saya bertemu dengan orang-orang yang juga penggemar klub sepakbola, terutama tim dari benua biru. Setiap klub mereka selesai bertanding, saya suka membicarakan hasil pertandingan. Tak jarang bila klub yang mereka sukai menelan kekalahan, saya iseng-iseng meledek mereka. Ya, sekedar iseng-iseng saja, tak ada niat lebih. Seperti memancing emosi mereka, misalnya. Tidak, saya tidak pernah punya maksud demikian. Bagi saya, ada dua hal yang menurut saya menjadi dopping tersendiri saat nonton pertandingan sepakbola di televisi. Yang pertama adalah taruhan. Saya sering melihat orang melakukan taruhan untuk sebuah pertandingan sepakbola, dari yang sekedar taruhan rokok sebungkus, sampai yang taruhan duit ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Tapi saya tak menyarankan kalian mengikuti judi bola semacam ini, saya sendiri juga belum pernah ikut taruhan bola. Lalu yang kedua menurut saya, saling ledek pendukung tim lawan. Hahaha, akan semakin seru kalau nonton bola bareng suporter fanatik tim lawan, pasti akan ada balas membalas ejekan kalau tim lawan kebobolan. Tiap nonton bola saya selalu demikian, bahkan ketika yang bertanding bukan tim favorit, saya dan teman-teman menentukan tim yang didukung sebelum pertandingan berlangsung. Dengan harapan supaya ada semangat buat nonton. Ya, seperti yang sudah-sudah, supaya ada ejek-ejekan di antara kami. Tapi cara ini jangan sampai diterapkan kalau pas nonton langsung di stadion ya, apalagi di Indonesia. Bisa-bisa bakalan terjadi kerusuhan seperti pertandingan antara Persija dan Persipura di Mandala Krida beberapa waktu lalu. Ini adalah cara saya dan teman-teman menikmati sebuah pertandingan sepakbola. Lalu, bagaimana cara kalian menikmati sepakbola? :)
*****
Tulisan ini diilhami oleh tulisan serupa dari Raditya ‘Kocok’ Kuntoro SH, seorang sahabat waktu SMA, yang diawali oleh kecintaan kami akan klub sepakbola. Sudah setahun lebih kami tak berjumpa semenjak pertemuan terakhir di kantor Disnakertrans Kabupaten Boyolali, semoga ia masih mengingatnya. Ingin sekali duduk semeja dengan dia, sambil ngopi dan nonton pertandingan Liverpool vs Chelsea tentunya. :)
*diketik di Jakarta pada suatu pagi melalui hape butut, dilanjutkan di warnet, dibaca di mana saja. Oleh @AanNoe*
Sunday, February 26, 2012
Usia dan Kedewasaan
bareng seorang teman di twitter.
Namanya sebut saja: Mbak Didi
(begitu ia biasa disapa). Hehe,
meski dari ke-3 kata namanya ga
ada unsur 'Di', tapi ia bisa dipanggil
Di. Mirip sama saya, walau nama di
KTP tertera Aan Nugroho, di
rumah saya dipanggil Adi.
Cerita berawal ketika ia
mengomentari Saeful Bahri,
seorang anggota kepolisian yang
gantengnya bikin heboh acara-
acara gosip di tipi. Saya sendiri
tidak begitu mengikuti beritanya.
Mungkin akan lain cerita
seandainya berita di tayangan
gosip adalah 'heboh polwan cantik
& seksi'. Nah, bisa saja saya tak
bisa lepas dari Insert, Selebrita, Kiss,
dan acara-acara sejenis itu. (kok
saya malah hafal ya? )
Kembali lagi ke laptop. Mbak Didi
bilang, meski Saeful Bahri itu
tampan dan gagah, tapi
menurutnya dia masih terlihat
masih seperti bocah. Hmmm, saya
juga pernah lihat Saeful meski
sekilas. Memang tampangnya
masih bocah. Unyu-unyu gitu,
mungkin ini yang bikin kaum hawa
gemes sama polisi satu ini.
Seandainya Saeful berdiri jejer
dengan saya, bisa jadi dia terlihat 7
tahun lebih muda dari saya. Haha…
Selanjutnya Mbak Didi bilang kalau
kedewasaan seseorang tak
bergantung dari usia. Bisa saja
seseorang masih berumur 20 tahun
namun cara berpikir layaknya
orang 30 tahun. Saya sih setuju-
setuju saja. Ga bisa dipungkiri kalau
kenyataan seperti ini ada di
lingkungan sekitar kita. Tingkat
kedewasaan yang tak sebanding
dengan usia. Seperti seorang
teman saya yang ditinggal wafat
oleh ayahnya waktu ia masih
duduk di bangku SMA. Sejak itu
praktis ia menggantikan beberapa
tugas seorang ayah di dalam
keluarganya. Dan terbukti, dia jadi
terlihat lebih dewasa dibandingkan
dengan teman-teman seangkatan.
Sebaliknya, ada sepupu saya yang
sekarang sudah menapaki usia 34
tahun tapi belum juga mau
menikah. Dia masih suka foya-foya
dan jalan-jalan. Dia juga sering
bergaul dengan teman-teman
yang usianya jauh di bawahnya.
Dan saya lihat pola pikirnya
mungkin masih sebanding sama
saya yang 11 tahun di bawahnya.
Memang, usia ga menjamin
kedewasaan seseorang. Tapi seiring
bertambahnya umur, tingkat
kedewasaan juga (se)harus(nya)
bertambah. Maka demi alasan
menambah kedewasaan, saya ga
segan untuk bergaul dengan orang
yang lebih tua dan saya anggap
lebih dewasa. Saya juga sering
berbagi cerita, meminta pendapat,
dan bertukar pikiran dengan
mereka. Dengan harapan supaya
saya jadi ketularan dewasa. Haha
Tapi bukankah sebaiknya usia dan
kedewasaan itu berjalan
beriringan? Mereka yang berumur
20 tahun, bersikap dan berpikirlah
layaknya seorang berumur 20
tahun. Menjadi dewasa terlalu
cepat juga ga baik, bukan? Juga
mereka yang berusia 30 tahun,
bersikap dan berpikirlah layaknya
seorang yang berusia 30 tahun.
Jangan sampai umur sudah 40 tapi
kelakuan masih seperti remaja.
Jangan sampai ada istilah ABG tua
lah, puber kedua lah, tua-tua keladi
lah. Hehe
Menjadi dewasa adalah sebuah
pilihan yang tak bisa dipaksakan.
Belajarlah dari pengalaman, karena
itu salah 1 cara menjadi lebih
dewasa. Bagaimana cara
menambah kedewasaan menurut
kalian?
*Diketik pada suatu pagi di Jakarta
oleh @AanNoe*
Saturday, February 11, 2012
Go Blog
****
Sehabis nyeruput kopi pikiran jadi lebih fres, otak jadi encer, mau mikir apa juga enteng, hehe. Oh ya, semalam iseng-iseng buka blog di warnet, hehe, kayaknya blog ini ga pernah dikunjungi manusia. Paling cuma 3 orang yang sudi mampir ke blog ini. Yaitu saya, saya, dan saya. Lhah?? Kasihan amat. Hehe, memang begitu mungkin kenyataannya. Jujur, saya bikin blog ini dari iseng-iseng. Dulu banget, waktu televisi belum diciptakan (ngaco), saya sudah hobi browsing (padahal pertama kali kenal internet waktu diajarin bikin akun facebook oleh seorang teman, November 2009 *katrok*). Saya suka nyasar ke blog-blog pribadi. Di situ saya mendapatkan bahan bacaan gratis dengan berragam tema, ada blog yang seperti buku harian malah, hehe. Maklum, sebenarnya saya sejak kecil sudah hobi membaca. Saya sering beli koran dan tabloid, sesekali juga beli buku. Tapi ini sering ditentang ibu saya, pemborosan katanya. Haha, tapi saya masih suka sembunyi-sembunyi kalau mau beli buku. Maafkan anakmu yang tampan ini ya, Bu. ^.^
Membaca blog orang lain membuat saya kepincut untuk bikin blog juga. Awalnya sih hanya sekadar (kata orang Spanyol) tamba pengen, alias obat pengen. Ehehe, masa iya orang-orang sudah punya blog pribadi tapi saya belum. Lha wong bikinnya juga gratis kok. Indonesia banget ya? Sukanya sama yang gratis-gratis. Hehe. Lagi pula, kalau punya blog atau situs pribadi kan bisa dipajang di profil twitter. Nah, ini yang menurut saya keren. Nah, jadilah Www.AanNoe.WordPress.Com nongol di bio twitter @AanNoe. Eh, itu kenapa nulis alamat blognya seperti itu? Hehe, ini adalah penerapan salah 1 ilmu optimasi dari Ali Akbar. Lebih eye catching daripada kalau diketik www.aannoe.wordpress.com, bukan? Kalian bisa belajar ilmu optimasi internet lainnya dari beliau. Silakan ikuti twitnya di @PakarSEO.
Meski jarang bikin postingan (yang bermutu), setidaknya keinginan untuk punya blog pribadi sudah terpenuhi. Dulu blog saya hanya berisi tulisan-tulisan hasil copy paste. Tapi kini yang seperti itu sudah saya hapus. Lalu saya isi dengan postingan yang benar-benar hasil pemikiran saya. Bagaimanapun hasilnya, jelek atau buruk setidaknya “inilah karya saya, bukan contekan”. Yang begini tentu lebih membanggakan, bukan? Meski di luar sana ada banyak blog yang isinya copy paste semua tapi rama pengunjung dan membernya seabreg.
Sekarang tinggal komitmennya untuk serius mengelola blog dan rutin bikin postingan. Meski saya bilang ini cuma iseng-iseng, tapi sebenarnya saya serius kok. Sekadar malu saja kalau saya mengatakan saya serius tapi hasilnya masih biasa-biasa saja dan cenderung buruk. Tapi saya sadar, saya harus terus belajar untuk memperbaiki diri. Saya tidak ingin menjadi orang yang merugi dengan tidak bisa menjadi yang lebih baik. Atau lebih parahnya, jadi orang yang celaka. Karena kualitas hidupnya justru menurun. *mulai bijak neehh :p*
Akhirnya saya ingin memotivasi, terutama diri saya sendiri. Jangan pernah berhenti untuk belajar dan memperbaiki diri. Sekian.
*diketik pada suatu pagi di Jakarta*
Oleh @AanNoe
