Sunday, February 26, 2012

Usia dan Kedewasaan

Kemarin (24/02) saya 'ngobrol'
bareng seorang teman di twitter.
Namanya sebut saja: Mbak Didi
(begitu ia biasa disapa). Hehe,
meski dari ke-3 kata namanya ga
ada unsur 'Di', tapi ia bisa dipanggil
Di. Mirip sama saya, walau nama di
KTP tertera Aan Nugroho, di
rumah saya dipanggil Adi.


Cerita berawal ketika ia
mengomentari Saeful Bahri,
seorang anggota kepolisian yang
gantengnya bikin heboh acara-
acara gosip di tipi. Saya sendiri
tidak begitu mengikuti beritanya.
Mungkin akan lain cerita
seandainya berita di tayangan
gosip adalah 'heboh polwan cantik
& seksi'. Nah, bisa saja saya tak
bisa lepas dari Insert, Selebrita, Kiss,
dan acara-acara sejenis itu. (kok
saya malah hafal ya? )


Kembali lagi ke laptop. Mbak Didi
bilang, meski Saeful Bahri itu
tampan dan gagah, tapi
menurutnya dia masih terlihat
masih seperti bocah. Hmmm, saya
juga pernah lihat Saeful meski
sekilas. Memang tampangnya
masih bocah. Unyu-unyu gitu,
mungkin ini yang bikin kaum hawa
gemes sama polisi satu ini.
Seandainya Saeful berdiri jejer
dengan saya, bisa jadi dia terlihat 7
tahun lebih muda dari saya. Haha…


Selanjutnya Mbak Didi bilang kalau
kedewasaan seseorang tak
bergantung dari usia. Bisa saja
seseorang masih berumur 20 tahun
namun cara berpikir layaknya
orang 30 tahun. Saya sih setuju-
setuju saja. Ga bisa dipungkiri kalau
kenyataan seperti ini ada di
lingkungan sekitar kita. Tingkat
kedewasaan yang tak sebanding
dengan usia. Seperti seorang
teman saya yang ditinggal wafat
oleh ayahnya waktu ia masih
duduk di bangku SMA. Sejak itu
praktis ia menggantikan beberapa
tugas seorang ayah di dalam
keluarganya. Dan terbukti, dia jadi
terlihat lebih dewasa dibandingkan
dengan teman-teman seangkatan.


Sebaliknya, ada sepupu saya yang
sekarang sudah menapaki usia 34
tahun tapi belum juga mau
menikah. Dia masih suka foya-foya
dan jalan-jalan. Dia juga sering
bergaul dengan teman-teman
yang usianya jauh di bawahnya.
Dan saya lihat pola pikirnya
mungkin masih sebanding sama
saya yang 11 tahun di bawahnya.


Memang, usia ga menjamin
kedewasaan seseorang. Tapi seiring
bertambahnya umur, tingkat
kedewasaan juga (se)harus(nya)
bertambah. Maka demi alasan
menambah kedewasaan, saya ga
segan untuk bergaul dengan orang
yang lebih tua dan saya anggap
lebih dewasa. Saya juga sering
berbagi cerita, meminta pendapat,
dan bertukar pikiran dengan
mereka. Dengan harapan supaya
saya jadi ketularan dewasa. Haha


Tapi bukankah sebaiknya usia dan
kedewasaan itu berjalan
beriringan? Mereka yang berumur
20 tahun, bersikap dan berpikirlah
layaknya seorang berumur 20
tahun. Menjadi dewasa terlalu
cepat juga ga baik, bukan? Juga
mereka yang berusia 30 tahun,
bersikap dan berpikirlah layaknya
seorang yang berusia 30 tahun.
Jangan sampai umur sudah 40 tapi
kelakuan masih seperti remaja.
Jangan sampai ada istilah ABG tua
lah, puber kedua lah, tua-tua keladi
lah. Hehe


Menjadi dewasa adalah sebuah
pilihan yang tak bisa dipaksakan.
Belajarlah dari pengalaman, karena
itu salah 1 cara menjadi lebih
dewasa. Bagaimana cara
menambah kedewasaan menurut
kalian?


*Diketik pada suatu pagi di Jakarta
oleh @AanNoe*

No comments:

Post a Comment